Kamis, 04 Juni 2009

Otak Kiri dan Otak kanan

Otak merupakan aset terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Namun dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ternyata kapasitas otak yang dipergunakan oleh manusia hanya maksimal 10%. Banyak penelitian dilakukan selama beberapa dasawarsa terakhir tentang apa yang disebut teori dominansi otak. Temuan-temuan tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa masing-masing belahan otak-kiri dan kanan-cenderung berspesialisasi dan melakukan fungsi-fungsi yang berbeda, mengelola jenis-jenis informasi yang berbeda, mengatasi jenis masalah yang berbeda.

Berikut adalah fungsi dari masing-masing belahan otak kiri dan kanan :

Belahan Kiri

  • Pada hakikatnya, belahan kiri melakukan bagian yang lebih logis/verbal.
  • Berkaitan dengan kata-kata
  • Pembagian hal-hal yang spesifik
  • Analisa, yang berarti menguraikan
  • Cara berpikir runtut (prosedural)
  • Terikat oleh waktu

Belahan Kanan

  • Intuititif dan Kreatif
  • Berkaitan dengan gambar-gambar
  • Hal-hal yang bersifat keseluruhan dan hubungan antar bagian
  • Sintesa, yang berarti menyatukan
  • Bebas Waktu
  • Imajinasi
  • Suara Hati

Walaupun orang menggunakan kedua belahan otaknya, salah satu sisi pada umumnya cenderung mendominasi tiap individu. Tentu saja idealnya adalah mengolah dan mengembangkan kemampuan sedemikian rupa agar mempunyai perlintasan yang baik antara kedua belahan otak tersebut sehingga orang dapat merasakan terlebih dahulu apa yang diperlukan oleh situasi dan kemudian menggunakan alat yang tepat untuk menanganinya. Akan tetapi orang cenderung untuk tetap tinggal dalam "comfort zone" dari belahan dominan mereka dan memproses tiap situasi menurut preferensi otak kanan atau kirinya.

Abrham Maslow mengemukakan, "Orang yang ahli menggunakan martil cenderung berpikir bahwa segalanya adalah paku." Ini adalah faktor lain yang mempengaruhi perbedaan persepsi dimana dua orang melihat satu masalah yang sama tetapi memberikan respon yang berbeda. Orang dengan otak kanan dan otak kiri cenderung melihat dengan cara yang berbeda.

Kita hidup dalam dunia yang terutama didominasi oleh otak kiri, dimana kata-kata dan ukuran serta logika berkuasa, sementara aspek yang lebih kreatif, intuitif, perasaan, artistik dari sifat kita sering dinomorduakan. Banyak dari kita merasa lebih sulit untuk menyadap kapasitas otak kanan kita.

Akan tetapi persoalannya adalah bahwa kita mampu melaksanakan banyak macam proses berpikir yang berbeda tetapi kita hampir tidak menyadari potensi kita tersebut. Ketika kita sadar akan kapasitas yang berbeda, secara sadar kita dapat menggunakan pikiran kita untuk memenuhi kebutuhan spesifik dengan cara yang lebih efektif.

Berdasarkan teori tentang penciptaan bahwa Everything is Created Twice (Segalanya diciptakan dua kali) yaitu :

1. Mental Creation (Created in the Mind/Penciptaan dalam Pikiran)

2. Physical Creation (Actually Created/Penciptaan secara fisik/nyata)

Sebagai contoh, apabila anda membangun sebuah rumah. Anda menciptakannya secara rinci sebelum anda menanam pasak pertama di tempatnya. Anda mencoba mendapatkan pemahaman yang sangat jelas tentang rumah seperti apa yang anda kehendaki. Jika Anda menginginkan sebuah rumah yang berorentiasi kepada keluarga, maka anda akan merancang untuk menempatkan ruang keluarga sebagai tempat berkumpul. Anda merencanakan pintu sorong dan pekarangan di belakang rumah tempat anak-anak bermain. Anda bekerja dengan gagasan. Anda bekerja dengan pikiran anda sehingga anda mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang anda ingin bangun.

Kemudian anda menuangkannya menjadi cetak biru dan mengembangkan rencana konstruksi. Semua ini dikerjakan sebelum tanahnya disentuh. Jika tidak, maka dalam penciptaan kedua, penciptaan secara nyata, anda akan terpaksa membuat perubahan mahal yang mungkin melipatduakan biaya pembangunan rumah anda.

Jika kita menggunakan teori dominansi otak sebagai model, jelaslah bahwa kualitas dari penciptaan pertama kita sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita menggunakan otak kanan kita yang kreatif. Semakin kita dapat memanfaatkan kapasitas otak kanan kita, semakin lengkap kita melakukan visualisasi, melakukan sintesa, melampaui waktu dan keadaan sekarang, memproyeksikan keseluruhan gambar dari apa yang kita ingin kerjakan dan cita-cita kita nantinya.

Untuk dapat memaksimalkan otak kanan, dapat kita lakukan dengan dua hal dibawah ini:

1. Meluaskan Perspektif

Kadang kita terlempar keluar dari lingkungan dan pola pikir otak kiri kita dan masuk ke dalam otak kanan melalui pengalaman yang tidak direncanakan. Kematian orang yang dikasihi, penyakit parah, atau musibah besar dapat menyebabkan kita mundur, memperhatikan kehidupan kita, dan mengajukan beberapa pertanyaan sulit pada diri sendiri: "Apa yang sebenarnya penting? Mengapa saya mengerjakan yang sedang saya kerjakan?".

Namun, apabila kita sadar bahwa kita bisa mengendalikan dan memilih terhadap apa yang kita pikirkan atau kita inginkan terjadi dalam hidup kita maka untuk meluaskan perspektif tidak harus menunggu orang lain atau peristiwa yang datang kepada kita tetapi kita bisa menciptakan sendiri pengalaman yang dapat meluaskan perspektif kita.

2. Visualisasi dan Afirmasi

Segala informasi yang masuk ke otak kita ternyata akan dibaca oleh otak kita menjadi gambar-gambar. Karena itu sangat penting untuk melakukan visualisasi terhadap kehidupan kita. Kita bisa menggambarkan kehidupan seperti apa yang kita inginkan 5 tahun kedepan bahkan 10 atau 20 tahun kedepan. Dan dengan visualisasi akan mengasah kemampuan otak kanan kita sehingga semakin maksimal.

Afirmasi atau penegasan juga sangat penting dilakukan karena afirmasi juga akan mengantarkan kita pada seperti apa diri kita dalam kehidupan dalam peran kita dalam keluarga, pekerjaan dan masyarakat atau sosial. Dengan melakukan afirmasi akan merangsang otak kanan untuk membacanya dalam bentuk gambar sehingga otak kananpun akan semakin maksimal berfungsi sehingga pada akhirnya akan terjadi keseimbangan dalam menggunakan seluruh otak kita.

Rabu, 03 Juni 2009

Pentingya Bimbingan dan Konseling di sekolah Menengah

Tujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis seperti persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengah kejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja.
Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi akan melulu memperhatikan sisi materi pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaan kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai “musuh” bagi siswa bermasalah atau nakal. merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah (perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan cita-cita hidup. Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh mekanisme struktural di suatu sekolah.
Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai dengan menegaskan pemilahan peran yang saling berkomplemen. Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkan dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagian kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner dan hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata tertib. Siswa mbolosan, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan lagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan punishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti ada bersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan BK optimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan. Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakan hukum-menghukum.
Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengah lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun, jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, kering pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan ini membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri negatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.
BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah, sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.
Tantangan pertama untuk memulai suatu proses pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahu apa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guru BK. Ada kekhawatiran bahwa konselor akan memakan “gaji buta”. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurus perpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor atau penggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf pengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yang dianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapa pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam penanganannya.
BK yang baru dilirik sebelah mata dalam proses pendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampu (baca: mau!) menyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai, ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai), atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet. Betapa mendesak untuk dikedepankan peran BK dengan mencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yang hakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada BK dalam pendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jika mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan semua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolah menengah dan semua pihak yang terlibat didalam proses kependidikan.